Football Handicap app_Baccarat registration_Sabah Sports Official Website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bookmakerwebsite

TOnlinOnline live casinoe live casinooOnline live casinonline live casinoapi ada juga lho temanku yang alergi MSG. Begitu makan makanan yang ada MSG-nya dia langsung mual, pusing, terus sakit perut.

Lebih lanjut lagi, Zulfikar Hermawan dari Zenius juga pernah mengadakan penelitian kecil-kecilan. Dari penelitian itu, ia menemukan bahwa kandungan MSG dalam semangkuk bakso kaki lima (di Bandung) rata-rata hanya sekitar 0,5 gram. Jumlah yang lagi-lagi tak ada apa-apanya dibandingkan batas maksimum konsumsi MSG yang 5 atau 6 gram.

Hah? Serius bisa bermanfaat? Omongannya valid nggak nih?

Selain itu, glutamat juga sebenarnya adalah penyedap rasa alami. Bahan makanan yang mengandung glutamat akan menyedapkan rasa bahan makanan lain yang dimasak secara bersamaan. Makanan berglutamat ini misalnya saja tomat, jamur, keju, daging dan kecap. Selain itu, glutamat juga diproduksi oleh tubuh kita sendiri, misalnya saja di dalam ASI.

“Sampai sekarang hubungan antara MSG dan kerusakan retina atau otak sama sekali tidak bisa dibuktikan,” Evan Dreyer, Harvard University

Batas maksimal konsumsi MSG yang direkomendasikan WHO adalah 6 gram per hari. Sementara, Menkes RI merekomendasikan batas aman MSG sebanyak 5 gram. Rata-rata orang Indonesia hanya mengkonsumsi 0,65 gram MSG setiap harinya — sangat sedikit dibandingkan batas maksimal 5 atau 6 gram tersebut. Jadi kita sebenarnya nggak perlu khawatir, karena kans kita untuk makan terlalu banyak MSG kecil sekali.

Sebelum termakan isu lebih jauh lagi, yuk pelajari lebih jauh soal MSG. Apakah penyedap rasa satu ini memang berbahaya seperti katanya?

Ada 2 jenis orang Indonesia: yang suka MSG alias micin dan yang lebih baik menahan lapar deh daripada memasukkan makanan ber-MSG ke dalam tubuhnya. Biasanya orang yang menghindari MSG percaya bahwa penyedap rasa ini adalah racun berbahaya. Nggak cuma bisa bikin bodoh, MSG juga disinyalir memicu kemandulan, obesitas, diabetes, sampai kanker. Waduh, serem ya?

Gejala ini dinamakan “Chinese Restaurant Syndrome” (CRS), karena dokter yang pertama kali memperkenalkannya mendapat gejala ini setelah kebetulan makan di restoran Cina. Tapi, dr. Ho Man Kwok yang pertama kali memperkenalkan istilah ini sebenarnya tidak mengidentifikasi MSG (atau bahan masakan apapun) sebagai penyebab CRS. Pun sampai sekarang belum ada bukti bahwa CRS adalah kondisi medis yang nyata atau hanya mitos semata.

“Yah… Kalau gitu nggak jadi aja deh. Makasi ya Mang…”

MSG adalah garam sodium dari asam glutamat. Memang sih, kristal putih MSG yang dijual sachetan itu pabrikan, tidak alami seperti glutamat dalam tomat atau jamur. Tapi jangan curiga dulu — nggak semua hal yang buatan pabrik itu buruk. Lagipula, tubuh kita sebenarnya tak bisa membedakan yang mana yang glutamat alami dan yang mana yang MSG. Efeknya terhadap tubuh kita sama, begitu pula proses tubuh dalam mencernanya.

Semoga sekarang sudah jelas kalau bahaya MSG sebenarnya adalah mitos semata. Jadi kalau ada teman kamu yang kelewatan begonya, jangan salahin MSG lagi ya — mungkin teman kamu memang lemah akal dan tulalit dari sananya? Hehe.

MSG diproduksi dari tetes tebu atau tepung tapioka, bukan limbah beracun yang berbahaya. Produksinya sendiri dijalankan melalui fermentasi mikroba. Fermentasi dengan mikroba adalah metode yang umum digunakan untuk mengolah makanan seperti tempe, keju, dan tape. Jadi tenanglah karena dari segi produksi dan bahan baku, MSG itu tidak berbahaya.

Sebenarnya ini gara-gara beberapa penelitian yang keabsahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya, ada penelitian di tahun 2002 di mana tikus-tikus percobaannya menjadi buta setelah disuntik MSG. Usut punya usut, dosis MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus ini sangat tinggi, yaitu 20 gram/100 gram makanan tikus. Ada juga penelitian tahun 1969 yang mengklaim bahwa MSG merusak jaringan otak. Lagi-lagi, MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus percobaan oleh para peneliti sangat banyak: 4 gram/kg berat badan.

Terus kok bisa sih ada mitos kalau MSG berbahaya?

Bedanya glutamat sama MSG itu apa? MSG yang dijual di toko-toko kelontong itu bahan kimiawi buatan, ‘kan?

Sebagai perbandingan: jika batas aman konsumsi MSG untuk manusia adalah 6 gram, dan jika itu didasarkan pada asumsi bahwa manusia tersebut memiliki berat badan 50 kilogram, maka batas aman MSG per kg berat badannya adalah 0, 12 gram/kg. Kalau tikus-tikus itu dapet 4 gram/kg berat badan, ya wajar aja aktivitas otak mereka jadi abnormal.

Glutamat adalah asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh karena perannya dalam membentuk protein. Selain membantu pengiriman sinyal-sinyal dalam otak, glutamat juga membantu fokus, ingatan, serta konsentrasimu. Glutamat juga memudahkanmu dalam mempelajari hal-hal baru.

“Micinnya udah dicampur langsung ke kuah, Neng. Gimana dong?”

Tapi kalau memang MSG berbahaya, kenapa peredarannya tetap diizinkan oleh badan makanan dan obat-obatan di Indonesia dan dunia? Kalau MSG memang bikin bego, kenapa orang Jepang yang terkenal cerdas gemar memasukkan MSG ke dalam makanan mereka sehari-hari? Hm — sepertinya ada fakta yang jarang mendapat sorotan selama ini.

“Mang, baksonya satu gak pake micin ya!”

Di tahun 2013, Liputan6 melansir berita bahwa rumah sakit akan menggantikan garam dalam makanan mereka dengan monosodium glutamat. Alasannya, MSG mengandung lebih sedikit natrium dibandingkan garam dapur biasa, menjadikannya penyedap rasa yang lebih aman untuk pasien pengidap hipertensi atau yang harus menghindari garam dalam dietnya.

Tak perlu takut lagi pada isu kesehatan yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Faktanya, MSG memang hanya garam penyedap rasa, bukan racun penyebab penyakit mematikan sebagaimana yang selama ini kita percaya.